Rabu, 05 Desember 2012

Sinopsis Arang and The Magistrate Episode 2



 


Kuda yang membawa Eun Oh dan Arang melaju cepat, Eun Oh memacu kudanya dengan keras untuk dapat menghindar dari kejaran Moo Young. Melihat Eun Oh dan Arang yang semakin menjauh, Moo Young semakin berlari dengan sangat cepat.



Khawatir bila Moo Young dapat menyusul mereka, Arang mengambil kelopak-kelopak bunga putih peach dari saku bajunya. Ia menghamburkan kelopak-kelopak itu ke arah Moo Young yang berlari dibelakangnya.



Kelopak-kelopak bunga putih peach yang disebarkan oleh Arang menghentikan Moo Young, ia mencoba melindungi diri dari tebaran kelopak-kelopak itu tapi gagal. Kelopak bunga peach berhasil menggoreskan luka di sudut mata Moo Young. Moo Young menghentikan langkahnya dan membiarkan Eun Oh membawa Arang pergi.

Berhasil lari dari kejaran pengumpul arwah yang diutus dari neraka, Eun Oh membawa Arang ke pinggir danau. Ia harus memastikan mengenai jepit rambut yang digunakan oleh Arang. Jepit rambut yang persis sama dimiliki oleh ibunya.

Setelah menghentikan kudanya, Arang masih terkejut dengan hal yang baru saja terjadi. Kenapa tiba-tiba Eun Oh menolongnya dan betapa berharganya pertolongan Eun Oh tadi, kalau bukan karena Eun Oh, mungkin Arang sudah berada di dalam cengkraman tangan Moo Young. Semua pemikiran itu membuat Arang terdiam. Ia bahkan engga mendengar saat Eun Oh meneriakinya untuk turun dari kuda.

Eun Oh kesal karena Arang engga juga turun dari kuda, dengan paksa, Eun Oh menurunkan Arang dan dengan paksa pula, Eun Oh mencabut pin/jepit rambut yang tengah dipakai Arang. Eun Oh kembali berpikir, kenapa jepit rambut ibunya ada pada Arang.



Bukankah ini jepit rambut yang pernah Eun Oh berikan pada ibunya sebagai hadiah. Pasti ada sesuatu yang mengaitkan antara Arang dan Ibu Eun Oh. Tapi kaitan seperti apa? Pikir Eun Oh.


Eun Oh lalu menanyakan mengenai jepit rambut yang dipakai Arang tanpa memberitahu bahwa jepit itu adalah milik ibu Eun Oh. Arang merampas kembali jepit yang tengah dipegang Eun Oh, ada urusan apa Eun Oh tertarik sekali pada jepit rambutnya? Ini memang jepit rambut milik Arang, apapun dan bagaimanapun juga jepit ini adalah jepit milik Arang, tegas Arang seraya menguncir kembali rambut gimbal panjangnya. Arang memiliki jepit ini sebelum ia mati, itu berarti, Arang mendapatkan jepit itu dari ibu Eun Oh.

Kebaikan Eun Oh membuat Arang memiliki rasa hutang budi, ia mengucapkan terimakasih sebelum ia pergi meninggalkan Eun Oh.


Tapi saat itu juga, langkah Arang terhenti oleh panggilan dari Eun Oh. Eun Oh memiliki janji untuk membantunya dan Eun Oh akan melakukan hal itu. Ia akan membantu Arang, sesuai dengan kemampuan yang Eun Oh miliki. 

Mendengar hal itu, Arang tersenyum senang. Benarkah? Benarkah Eun Oh akan membantunya? Sebagai tanda perjanjian, Arang menjabat tangan Eun Oh dan Eun Oh memperbolehkannya Arang untuk menaiki kudanya sehingga mereka dapat kembali ke Miryang dengan bersama.
 
Di perjalanan Arang mengatakan bahwa sebenarnya Eun Oh adalah orang yang baik hati walaupun keras kepala dan angkuh, tapi Eun Oh memiliki sisi kebaikan yang engga orang lain tau. Arang mengatakan kepada Eun Oh, "Kalau kau belum mati, jangan berbicara kepada orang yang sudah mati sesukamu. Karena semua orang memiliki sisi keputus-asaan mereka masing-masing. Apakah kau tahu bagaimana frustasinya tidak mengetahui siapa dirimu dan bahkan tidak mengetahui nama. " ucap Arang. Eun Oh menjawab, "Lagi pula bukankah, pencari arwah itu memanggil mu Arang, Lagi pula, aku tidak akan memanggilmu dengan nama aslimu." Arang berpikir tidak masalah, karena mereka tidak akan mengenal satu sama lain cukup lama untuk menggunakan nama mereka masing-masing.


Moo Young kembali ke langit ke 7 untuk melaporkan mengenai kegagalannya dalam menangkap Arang. Ia memasuki taman langit untuk menemui Kaisar langit. Taman langit yang penuh dengan bidadari itu membuat Moo Young tertegun, dan beberapa bidadari yang ada di sana mengingatkannya pada adiknya. Tapi panggilan dari Kaisar langit menyadarkan dirinya kembali.
Kaisar langit bertanya apakah Moo Young masih merindukan adiknya, Moo Young terdiam. Kaisar langit mengingatkan bahwa setelah seseorang meninggalkan bumi maka hubungan keterikatan mereka satu sama akan terputus.

Kegagalan Moo Young saat mencoba menangkap Arang ditanggapi dengan penuh kebijaksanaan dari Kaisar langit. Kaisar langit mengerti mengenai permasalahan yang dihadapi Moo Young.Kaisar langit mengatakan bahwa bibit-bibit takdir sudah disebar dan tertanam, sekarang saatnya tinggal menunggu mereka yang menguncup untuk bermekaran.



Berbeda dengan Kaisar langit, hanya Raja Neraka yang memiliki perhitungan bahwa kegagalan Moo Young merupakan hal yang engga semestinya terjadi. Moo Young memilki jabatan tertinggi diantara jajaran malaikat pengumpul arwah dan sampai saat ini ia belum juga berhasil menangkap Arang.


Kaisar langit kembali berfilosofi, kali ini filosofinya ia kaitkan dengan bekunya bunga-bunga di taman langit. Ia menyentuh satu bunga hingga bunga itu membeku dan begitu pula dengan bunga-bunga lainnya, semua bunga di taman langit itu membeku dengan satu kali sentuhan dari Kaisar langit.


Kenapa? Karena bunga-bunga di taman langit itu tertanam dengan memiliki akar yang saling mengait. Semua hal memiliki banyak kaitan, hal yang berkaitan satu sama lain itulah yang akan mengembalikan Arang ke tempat dimana seharusnya ia berada.  "Takdir adalah seperti ini, mereka saling bercabang ke segala arah, berputar dari sisi satu ke sisi lain, tapi pada akhirnya mereka akan kembali ke titik yang telah ditentukan."


Dol Swi yang tengah menunggu hujan reda di bawah kanopi sebuah toko, terkejut saat melihat kedatangan Eun Oh. Eun Oh datang seraya memberikan jas hujan pada Dol Swi, what a polite master :) Keterkejutan Dol Swi bertambah saat Eun Oh memberitahunya bahwa ia akan kembali ke kantor pemerintahan. Entah ini keterkejutan Dol Swi yang keberapa kalinya, saat mendengar bahwa Eun Oh akan tetap mencalonkan diri sebagai hakim.
Eun Oh tersenyum dengan rencananya itu, sedangkan Dol Swi histeris. Semua ini pasti berkat hasutan dari para 3 ahjusshi yang bekerja di pemerintahan itu, pikir Dol Swi. Tanpa pikir panjang, Dol Swi menanggahkan jas hujannya, lalu ia berlari untuk segera menemui 3 ahjusshi (I will call them as TRIO, from now on)


Sedangkan di dalam kantor pemerintahan, trio ahjusshi tengah sibuk membuat mandat perihal poisisi kedudukan hakim yang juga belum terisi oleh siapapun. Mereka menuliskan pengumuman untuk raja dan membacakannya.

Dol Swi datang dan mencoba menghajar mereka, tapi Eun Oh melarangnya.


Sebelum datang menemui Officer Choi, trio ahjusshi itu berpikir bagaimana caranya untuk memanipulasi Eun Oh agar berada di sisi mereka sehingga posisi pemerintahan mereka dapat terjaga. Semua permasalahan yang terjadi di dalam pemerintahan harus dilaporkan terlebih dulu kepada Officer Choi. Bangsawan ini melindungi hartanya dengan engga mengindahkan peraturan-peraturan pemerintahan dan selalu mencoba untuk mengatasi masalah pemerintahan dengan caranya sendiri, sehingga ia dapat mengambil keuntungan lebih dengan memeras pajak dari masyarakat.

Adanya hakim yang bukan dari utusannya akan membawa malapetaka bagi Officer Choi. Semua korupsi yang telah ia lakukan akan dengan mudah dikuak dan hal itu adalah hal yang paling ditakuti. Ketakutan yang sama yang tengah dirasakan oleh salah satu ahjusshi trio yang tengah melaporkan mengenai kedudukan hakim di wilayah Miryang.
Ahjusshi itu juga melaporkan mengenai Eun Oh yang baru-baru ini berhasil menduduki kursi hakim setelah melalui proses pe-eksekusi-an. He. Dari beberapa hakim yang telah ada, hanya Eun Oh yang bisa bertahan. Dan anehnya, hal pertama yang dilakukan Eun Oh saat berada di kamar yang telah disediakan oleh pihak pemerintahan kerajaan adalah menggambar wajah seorang wanita.Wajah seorang wanita? Siapa wanita itu? Pikir Officer Choi. Ahjusshi yang sama sekali engga mengetahui perihal hal itu, mendapat amarah dari Officer Choi. Officer Choi melemparkan benda ke arah ahjusshi. Poor ahjusshi.

Well, Eun Oh berusaha untuk membuat potret dari wajah Arang. Dengan serius dan kemampuan melukis yang amat sangat minim, Eun Oh menggambar wajah Arang di secarik kertas.


Arang penasaran dengan bagaimana wujud rupanya, ia beberapa kali mengintip hasil gambar Eun Oh. Malangnya. Taraaa... Eun Oh menunjukkan hasil potret super kreatif dari tangannya.


Melihat hasil gambar Eun Oh, Arang terkejut. Apa ia benar-benar sejelek itu? Pikir Arang. "Apa aku memang terlihat seperti itu?"tanya Arang. Eun Oh mendecak, tentu saja bukan, Arang cantik dan engga sejelek seperti yang digambarkan oleh Eun Oh. Haha.


Kali ini, Eun Oh menyuruh seseorang untuk menggambarkan wajah Arang. Pelukis itu melukis sesuai dengan pendeskripsian yang Eun Oh berikan pada wajah Arang. Ha. Dan hasilnya, potret itu membuat Arang mengira-ngira mengenai bentuk wujud rupanya, benarkah sesuai dengan hasil gambar ini.

Alasan Eun Oh membuat potret wajah Arang adalah agar penyelidikan mengenai identitas Arang dapat dilakukan dengan mudah dan mungkin saja, Eun Oh mendapatkan semacam "isyarat" yang dapat membantunya. 


Karena kesal engga juga menemukan clue yang bisa membantu, Eun Oh merobek potret Arang dan bertanya serius kepadanya, mengenai siapa sebenarnya nama Arang, bagaimana ia bisa mati. Bagaimana Arang bisa mengetahui hal itu, ia saja sama sekali engga mengetahui bagaimana rupa dirinya sendiri. He. Mungkin Arang mengingat sesuatu, sesuatu yang dapat mengarahkan Eun Oh untuk menguak jati dirinya, tanya Eun Oh.

Mengingat.. Sesuatu.. Sesuatu.. Ah, Arang hanya ingat dua hal. Pertama, ia telah menjelajahi Miryang tanpa arah dan tujuan selama kurun waktu 3 tahun. Jawaban Arang ini malah membuat Eun Oh bertambah frustasi. He. Apalagi yang Arang ingat.


Yang kedua, Arang mengingat.. Ah, ia. Ia mengingat rasa sakit dibagian ulu hatinya, apa jangan-jangan Arang mati terbunuh karena ditusuk pisau dibagian perutnya? Arang mengira-ngira kematiannya sendiri.

Mendengar hal itu, Eun Oh terkejut. Mungkin saja, Arang mati dibunuh dengan tusukan pisau di perutnya. Mungkin mencari daftar riwayat pembunuhan yang terjadi selama 3 tahun sebelumnya di Miryang melalui buku dokumentasi kematian yang ada, mungkin dapat menjadi alternatif yang terbaik, pikir Eun Oh.

Alhasil, Eun Oh menyuruh trio Ahjusshi untuk membawakan dokumentasi kematian penduduk yang belum terpecahkan, karena pembunuhan yang terjadi dalam kurun waktu 3 tahun silam. Dengan penuh tanda tanya, trio Ahjusshi itu menyerahkan setumpuk buku-buku dokumentasi seperti yang diminta oleh Eun Oh. Mereka menjelaskan secara detail mengenai hal tersebut.


Dengan banyak pertanyaan di otaknya, Eun Oh mulai membolak-balik buku dokumentasi itu. Mencari dan membaca setiap kejadian pembunuhan selembar demi selembar. Tapi.. Nothing. Eun Oh engga menemukan apapun, yang ia temukan hanya reka kejadian kematian yang engga ada kaitannya dengan kematian Arang. "Kenapa mereka senang sekali membunuh orang.." pikir Eun Oh.

Eun Oh yang putus asa mulai kesal dengan dirinya, terlebih pada Arang. Arang mengira, kalau kematian pembunuhan dirinya engga ada di buku dokumentasi itu, ada kemungkinan jasad Arang masih belum diketemukan. Eun Oh mengejek Arang dan mengatakan bahwa mungkin jasad Arang sudah membusuk sendirian di suatu tempat antah berantah. Arang yang mendengar hal itu kesal. Keduanya yang sama-sama dalam keadaan kesal dan jengkel, saling berpisah untuk menenangkan diri.

Arang menenangkan diri di jembatan seraya mengomel mengenai betapa keras kepala dan bodohnya Eun Oh. Arang berpikir kalau Eun Oh memang benar-benar engga bisa diandalkan.


Eun Oh yang juga kesal mencoba untuk melihat-lihat lingkungan sekelilingnya. Kantor pemerintahan itu sepi, beberapa rumah juga sudah menutup pintunya karena terlelap tidur. Malam itu seraya berjalan menyusuri gang-gang, Eun Oh berpikir mengenai ibunya dan Arang. Bagaimana keduanya bisa saling berkaitan? Kenapa Arang bisa memiliki jepit rambut milik ibunya? Tapi sayangnya, entah bagaimanapun cabang pemikiran Eun Oh, hanya membuatnya bertambah bingung dan penasaran.

Rasa penasaran yang Eun Oh rasakan semakin menjadi, ketika melihat sebuah ruangan yang pintu gerbangnya terkunci rapat namun ruangan tersebut masih diterangi oleh cahaya. Eun Oh penasaran, dari sekian banyak ruangan gelap di kantor pemerintahan itu, tapi mengapa hanya ruangan itu saja yang masih diterangi oleh cahaya.


Eun Oh mencoba masuk ke ruangan itu dengan meloncati gerbang. Benar saja, ruangan itu engga terkunci.



Eun Oh masuk ke dalam ruangan, dan betapa terkejutnya ia sangat mengetahui bahwa ruangan itu masih tertata sangat rapi. Beberapa jepit rambut dan perhiasaan yang tertata di dalam ruangan membuat Eun Oh menyadari kalau ruangan itu adalah ruangan milik seorang wanita.

Tapi, desis-an suara gaib di dalam ruangan itu, membuat Eun Oh tetap berada di dalam ruangan. Ia kembali mengobserv setiap barang yang ada. Ia menemukan sebuah rajutan bunga dan sebuah kotak.. Penasaran dengan isi kotak itu, Eun Oh mencoba untuk membukanya.


Belum sempat ia membuka kotak, seorang pelayan wanita menegurnya dari arah luar. Eun Oh mencoba bersikap sewajarnya, ia keluar dari ruangan dan menghampiri pelayan wanita tersebut. Saat ditanya siapa sebenarnya Eun Oh, dengan bangganya Eun Oh memperkenalkan diri sebagai hakim yang baru menjabat beberapa hari ini.

Pelayan wanita itu mengerti, dan saat ditanya ruangan yang baru saja dimasuki oleh Eun Oh itu milik siapa, pelayan wanita itu menjawab bahwa ruangan itu adalah ruangan bekas anak dari hakim yang telah menjabat beberapa tahun silam. Ruangan itu sengaja dibiarkan begitu saja sama seperti saat putri dari hakim itu menghilang.

Dimana sekarang keberadaan anak dari hakim tersebut? Tanya Arang. Pelayan wanita itu menceritakan bahwa putri dari hakim tersebut tiba-tiba menghilang dan engga diketemukan oleh siapapun. Selama 3 tahun terakhir ini, putri hakim yang bernama Lee Seolin itu menghilang tanpa jejak.

Mendengar hal itu, Eun Oh terbelalak. Ia mendapat clue, lebih dari sekedar clue. Gadis yang merupakan anak dari seorang hakim, gadis yang telah menghilang tanpa jejak selama kurun waktu 3 tahun. Cerita itu sama persis dengan Arang.

 



Di tempat lain, Arang bertemu dengan para hantu yang tengah menunggu sesajen yang akan diberikan oleh keluarga yang baru saja mengadakan upacara kematian. Mereka terbagi menjadi 2 kubu, masing-masing dari mereka memperebutkan satu mangkok makanan yang telah disiapkan oleh Shaman. Arang teringat seorang lelaki tua.

Flashback :
Hantu lelaki tua yang dengan baik hatinya telah memberikannya makan dan memberikan Arang sebuah nama. Arang. Arang bukan nama aslinya, panggilan itu di dapat dari seorang hantu lelaki tua yang baik hati.

Hantu lelaki tua itu juga memberi nasehat mengenai betapa penting bagi seorang hantu untuk makan. Terlebih makan makanan pemberian orang-orang yang baru saja menyelenggarkan upacara kematian, karena makanan beras tersebut dapat menenangkan para hantu. Lol.
Endflashback

Teringat hal itu, Arang bersemangat untuk juga ikut berebut mengambil makanan. Ia mesti berada di antara dua kubu hantu yang juga tengah berburu makanan. Tanpa siapapun, mustahil bagi Arang untuk mendapatkan makanan itu.


Benar saja, masing-masing dari kubu itu saling membantu satu sama lain untuk mengalahkan kubu yang lain dalam mengambil makanan. Sedangkan Arang, ia hanya sendirian dan ia kelaparan.Alhasil, Arang kalah saing dan engga mendapatkan makanan sedikitpun. Poor Arang.

Eun Oh menunggu kedatangan Arang dengan gelisah. Entah sudah berapa lama, Eun Oh berdiri di tempat itu hanya untuk menemui Arang. Kemudian saat Arang datang, Eun Oh menghampirinya.



Ia memegang tangan Arang yang langsung ditangkis oleh Arang yang tengah geram karena engga mendapatkan makanan. Tapi setelah mendengar ucapan Eun Oh, "aku menemukannya" ucap Eun Oh, Arang terkesiap. Yeap. Eun Oh berhasil menemukan jati diri Arang.


Eun Oh membawa Arang ke kamar yang sebenarnya adalah milik Lee Seoli yang engga lain adalah Arang itu sendiri. Arang terkesima melihat ruangan itu, benarkah in adalah kamarnya? Ia pun tertegun, kemudian mengulang pertanyaannya, "Benarkah?" tanya Arang yang langsung disambut dengan anggukan oleh Eun Oh.


Eun Oh menunjukkan rajut sulaman yang ada di kamar itu. Lagi-lagi Arang terkesima, rajut sulaman berbentuk kupu-kupu itu memang sama persisi dengan sulaman rajut yang ada di hanbok milik Arang. Eun Oh dengan antusias menghampiri Arang, berharap Arang mengingat sesuatu. Mengingat tentang bagaimana ia bisa memiliki jepit rambut milik Ibu Eun


Oh. Tapi... Nihil. Arang sama sekali engga mengingat apapun. Rajutan kupu-kupu, benda-benda dan perhiasan di ruangan itu belum mampu mengembalikan ingatan Arang terhadap dirinya sendiri. Eun Oh menghembuskan nafas kesal, harusnya Arang mengingatnya.

Untuk memastikan, Eun Oh pun menanyakan perihal anak perempuan dari hakim yang telah menjabat terakhir kali pada trio ahjusshi. Trio Ahjusshi itu menjelaskan semua informasi yang mereka ketahui bahwa sebenarnya anak perempuan dari hakim itu memiliki sifat yang sangat pemalu dan santun. Ia sangat menjaga kebangsawanannya, hal itu membuat orang-orang disekitarnya jarang melihat wajah dari anak perempuan hakim itu.



Tapi rumor yang beredar mengatakan bahwa anak perempuan dari hakim itu bernama Lee Seoli telah memiliki seorang tunangan. Tapi entah kenapa, Lee Seoli telah jatuh cinta pada pria rendahan lain, dan ia pergi bersama orang yang dicintainya itu. Ayahnya telah mencarinya keseluruh penjuru negeri tanpa engga menemukan apapun, sampai akhirnya ia mati karena engga memiliki anggota keluarga yang lain.

Ha. Seorang tunangan. Fakta itu membuat Eun Oh menasihati Arang dengan berbagai hal. Dan hal yang terpenting adalah, Eun Oh hanya peduli pada ingatan Arang saja. keke. Tapi pada akhirnya, semua ucapan Eun Oh itu malah membuat Arang semakin ingin menemui tunangannya. Mungkin saja, tunangannya dapat menjelaskan mengenai jati dirinya yang sebenarnya.

Menemui tunangan Arang tentunya memerlukan bantuan dari Eun Oh. Tapi, Eun Oh, sifatnya yang malas mengurusi urusan orang lain membuat dirinya menolak untuk membantu Arang agar bertemu kembali dengan tunangannya.

Arang mengerti bahwa selama ini ia telah banyak menyusahkan Eun Oh dan Arang amat sangat berterimakasih atas semua yang telah dilakukan Eun Oh untuknya. Arang pergi meninggalkan Eun Oh.



Tapi, apa yang membuat Eun Oh luluh sehingga mau membantu Arang untuk dapat bertemu dengan tunangannya?? Pin/Jepit rambut yang digunakan Arang. Itu menjadi satu-satunya alasan kuat, sehingga Eun Oh mau membantu Arang. Karena jepit rambut milik ibunya yang digunakan oleh Arang itu adalah satu-satunya clue yang dimiliki Eun Oh untuk dapat kembali menemukan ibunya.


Pagi harinya, Eun Oh menepati janji yang telah ia buat pada Arang, yaitu mengantarkan Arang untuk menemui tunangannya. Dan tebak siapa tunangan Arang a.k.a Lee Seoli?

Tunangan Arang adalah JOO WHAL, anak dari Officer Choi. O.M.G
Eun Oh berkomentar, bisa-bisanya Arang pergi meninggalkan tunangannya yang super kaya dan perfect ini, dan lebih memilih untuk pergi bersama orang lain yang engga sepadan dengan Joo Whal.

Sesampainya di depan pagar gerbang, Arang dan Eun mengintip dari kejauhan. Joo Whal tengah melukis bunga-bunga di secarik kanvas. Dan karisma yang dimiliki Joo Whal benar-benar membuat Arang berdebar-debar, entah kenapa saat melihat Joo Whal jantungnya berdetak sepersekian detik lebih cepat dari biasanya.Apa itu karena ia memang menyukai Joo Whal? Atau karena rasa sakit di masa lalunya yang membuatnya berdebar-debar seperti itu?

Well, herannya, Arang adalah seorang hantu, bagaimana bisa jantunya berdetak dan berdebar-debar seperti itu.

Melihat Arang yang enggan untuk menemui tunangannya sendiri, membuat Eun Oh jengkel. Bagaimana bisa seperti ini, mereka sudah sampai di depan rumah milik keluarga dari tunangan Arang tapi Arang malah mengurungkan niatnya. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Joo Whal karena jantungnya berdetak kencang dan hal itu menandakan kalau dirinya belum siap menemui Joo Whal-tunangannya.


Engga peduli apapun alasan Arang, Arang harus tetap menemui Joo Whal. Eun Oh memaksa Arang untuk masuk ke dalam gerbang, ia mendorong-dorong Arang dari arah belakang.



Tapi pemaksaan pun berbalik, kali ini Arang yang memaksa Eun Oh untuk kembali dan pergi dari rumah Joo Whal. Saat Eun Oh mengambil kemputusan untuk memanggil nama pemilik rumah, Arang dengan tenaganya membungkam mulut Eun Oh dan menyeretnya pergi sejauh mungkin dari rumah itu. aakk.. Eun Oh diseret-seret oleh Arang. LOL

Di kedai makanan, Eun Oh benar-benar dibuat pusing oleh ulah Arang. Kemarin malam, Arang sendiri yang bersikukuh ingin mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya dengan menemui tunangannya. Tapi sekarang? Arang juga yang membatalkan dan mengurungkan niatnya, dengan alasan dirinya belum siap.

Tertekan dengan apa yang baru saja terjadi, Eun Oh menenangkan diri dengan meminum secangkir anggur putih, tapi rasa tertekannya membuat nafsu minumnya hilang. Arang mengambil kesempatan, ia mengambil cangkir berisi anggur putih milik Eun Oh dan meminumnya. Keke..

Di kedai itu, bukan Eun Oh yang menenangkan diri, malah Arang yang menghabiskan minuman anggur putih. Ada alasan kenapa Arang engga ingin menemui tunangannya saat itu, selain karena jantungnya yang berdebar kencang, "kung.. kung.. kung.." ucap Arang memperagakan bagaimana suara jantungnya saat ia menemui tunangannya tadi, juga karena Arang ingin terlihat cantik.


Apa? Seorang hantu yang engga terlihat oleh siapapun, kecuali oleh Eun Oh, ingin terlihat cantik. Bagaimanapun juga, Arang adalah wanita, ia hantu wanita. Bagaimana pria seperti Eun Oh tau perasaan wanita seperti apa, keluh Arang. Haha.. Arang berkata kalau ia harus terlihat cantik sebelum menemui tunangannya, ia akan meminta bantuan Shaman untuk membelikan baju baru untuknya. Pasalnya baju yang tengah di pakai Arang saat ini adalah baju yang sudah ia kenakan lebih dari 3 tahun. Hah.

Joo Whal, ia berada bersama beberapa orang wanita penghibur. Hidup Joo Whal penuh dengan rahasia, ia seperti menyimpan beban berat yang membuatnya kehilangan kebahagiaan.

Dan Joo Whal selalu melihat ke arah cincin, seperti cincin itu adalah sesuatu yang berharga baginya. Dikelilingi oleh wanita penghibur cantik engga dapat membuat Joo Whal bahagia, ia bahkan sama sekali enggan untuk tersenyum. Joo Whal malah merasa risih berada di antara para wanita penghibur itu. Alasan mengapa Joo Whal datang ke tempat ini adalah untuk menemukan seseorang, tapi ia engga menemukan apa yang seharusnya ia temukan. Ia keluar dari ruangan untuk kembali pulang.
Joo Whal memaki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia berpikiran untuk mencari seseorang itu di tempat seperti ini. eek. who? who?
Tapi setibanya ia diluar, seorang wanita penghibur mulai menggodanya. Ia mendekati dan merayu Joo Whal. Joo Whal engga menghiraukannya. Wanita penghibur itu kembali menggoda Joo Whal, dan hal ini malah membuat Joo Whal bertambah geram. Hilang kehabisan Joo Whal, ia mengeluarkan pisau dan mengancam wanita itu dengan pisau.

Sadar akan perbuatannya, Joo Whal mencoba menurunkan pisaunya. Dengan mata nanar, ia meminta pada wanita itu untuk engga menceritakan apapun perihal kejadian ini. Wanita itu mengangguk ketakutan dan Joo Whal pergi dengan kekesalannya.

Eun Oh bertambah stress dibuatnya, karena kali ini, bukan hanya Arang saja yang mabuk berat, Eun Oh juga harus menggendongnya karena Arang mulai engga sadarkan diri. Hantu ini minum soju banyak sekali. ekk. Eun Oh menggendong Arang dan ia harus berletih ria melewati dataran dan jembatan.


Engga kuat menggendong Arang, Eun Oh menjatuhkan Arang begitu saja.

Eun Oh mencoba untuk menggendong kembali Arang, tapi berat tubuh Arang memang diluar dari layaknya berat tubuh seorang wanita. Eits, cupid tengah menanamkan bibit-bibit cinta kali ini. Saat Eun Oh menggendong Arang, tanpa sengaja, pipi mereka bersentuhan dan aww.. kenyal dan bersinar biru, saat pipi mereka bersentuhan, Eun Oh merasakan perasaan yang berbeda.

Perasaan yang membuat Eun Oh kembali melepas gendongannya dan menjatuhkan Arang. Ia mencoba  menggendongnya lagi entah sudah untuk keberapa kalinya.

Malam hari, mereka baru sampai di rumah milik Shaman, siapa lagi kalau bukan Shaman Bang Wool. ekk.. Sesampainya mereka di sana, Bang Wool yang tengah mempersiapkan sesajen dikagetkan dengan kedatangan Eun Oh. Bang Wool menjaga sikapnya bak Shaman sungguhan ia menyapa Eun Oh. Tapi ketika mendengar suara Arang, Bang Wool salah tingkah, ia selalu merasa takut ketika digentayangi seperti itu oleh Arang.

Keterkejutan Bang Wool bertambah, saat mengetahui kalau Eun Oh dapat melihat wujud rupa Arang sedangkan Bang Wool sendiri yang seorang Shaman engga bisa melihat Arang. keke.


Membutuhkan dua bulatan logam emas untuk membayar Bang Wool agar mau membuatkan baju hanbok baru untuk Arang. 


Membuat baju dibutuhkan ukuran-ukuran yang tepat, untuk itu, Bang Wool meminta bantuan Eun Oh untuk mengukur tubuh Arang sehingga nanti baju yang dibuatkan akan pas dan sesuai. Kenapa harus Eun Oh, kenapa bukan Bang Wool sendiri yang mengukur untuk ukuran baju Arang? Karena Bang Wool engga memiliki kekuatan untuk melihat wujud asli dari Arang. he..


Dengan canggung, Eun Oh mengukur tubuh Arang. Eit, untuk bagian dada, Arang mengambil ukuran itu dan mengukurnya sendiri. Engga agar Eun Oh mengetahui ukuran dadanya, Arang membisikkan ukuran itu pada Bang Wool. Oleh Bang Wool, ukuran dada milik Arang diumumkan di depan Eun Oh. he. Bang Wool meneriakkan ukuran dada milik Arang dan hal itu membuat Eun Oh terkekeh.


Eun Oh kembali mengukur bagian leher, jarak wajah mereka berdekatan dan membuat keduanya canggung kemudian saling menghindari tatapan mata masing-masing. cute.


Ia mengukur pundak Eun Oh dan juga bagian pinggung. Sweet scene!

 Selesai sesi ukur-mengukur, Eun Oh pulang dengan perasaan aneh. Kali ini, jantungnya yang berdetak lebih cepat ketimbang cepatnya jarum jam berdetak. Eun Oh mengutuk dirinya sendiri karena merasakan perasaan aneh seperti ini. Berdebar kencang saat berada di hadapan Arang sesaat tadi, Eun Oh deskripsikan sebagai perasaan gila yang aneh. He.

Arang memperhatikan Eun Oh dari atas loteng, ia terkekeh melihat Eun Oh yang salah tingkah. Ia juga tersenyum pada dirinya sendiri, karena ternyata selama ini penilaiannya terhadap Eun Oh memang benar, Eun Oh sebenarnya baik dan sangat bertanggung jawab, pikir Arang setelah Eun Oh berhasil membantunya untuk membuatkan hanbok baru.


Dalam perjalanan pulang, saat melewati jembatan, Eun Oh tanpa sengaja berpapasan dengan Joo Whal. Eun Oh yang tau bagaimana watak Joo Whal, lalu mengomentarinya. Bagaimana bisa, Arang memilih orang seperti Joo Whal. Joo Whal yang dikomentari seperti itu, tetap berlalu dan engga mendengar sama sekali gumaman dari Eun Oh. Are they sibling? LOL ME. May be I'm always wrong.

Seorang pengawal memberikan laporan kepada Ayah Joo Whal-Officer Choi. Laporan bahwa Joo Whal baru saja datang, beberapa waktu lalu ia pergi ke tempat wanita penghibur. Officer Choi lalu berpikir, bahwa bukan sifat Joo Whal untuk pergi ke tempat seperti itu, mungkin ini karena ia telah kehilangan tunangannya.
Di pertengahan malam, saat Eun Oh tengah tertidur pulas, ia dibangunkan oleh hembusan angin gaib. Perlahan Eun Oh membuka matanya dan BAM... ada Arang yang tengah tidur berhadapannya bersamanya. Eun Oh menghela nafas, kali ini kestress-an apa yang akan Eun Oh dapat.

Arang yang tidur berhadapan dengannya bergumam dan Eun Oh mendengarkannya. "Apa kau tau, semua orang memiliki penyesalan yang mereka pendam untuk diri mereka sendiri?" tanya Arang. Eun Oh hanya menatap engga mengerti dengan perkataan Arang itu. "Aku memiliki penyesalan terdalam yang tengah aku rasakan saat ini." ucap Arang dengan masih menatap Eun Oh.


"Apa, karena kau hanya memakai pakaian itu selama 3 tahun?" kilah Eun Oh. Arang menggelengkan kepala dan tersenyum, "Bukan. Penyesalanku adalah karena aku sudah mati terlebih dahulu sebelum sempat mencium seseorang." ucap Arang.

Eun Oh menahan nafasnya, ia benar-benar gugup, saat Arang mencoba mendekatkan wajahnya pada wajah Eun Oh. Arang engga mempedulikan kegugupan Eun Oh, dan ia mencoba untuk mencium bibir Eun Oh. Cut. Cute!

Apa Arang akan benar-benar mencium Eun Oh? Apa Eun Oh benar-benar sudah jatuh hati pada Arang? Bagaimana pertunangan antara Arang dengann Joo Whol? Apa benar Joo Whol dan Officer Choi adalah orang dibalik kematian Arang? Apakah Arang benar-benar sudah mati? ..... (1000k questions)
Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar